Semakin hari kota Malang semakin panas saja. Padahal sebelumnya Malang terkenal dengan sebutannya sebagai kota Dingin. Entah sudah mengalami kenaikan suhu berapa derajat sehingga menjadikan Malang tidak sedingin dulu.
Kalau saya lihat kota Malang semasa saya SMA dulu dengan saat ini saya sudah duduk di bangku kuliah banyak sekali mengalami perubahan. Sekarang banyak kita temui gedung perbelanjaan, sejauh mata memandang hanya bangunan – bangunan ber-etalase saja yang bakal kita temui.
Pembangunan gedung-gedung yang bisa dikatakan besarnya mengalahkan gedung-gedung pendidikan di kota Malang ini tentulah memerlukan lahan yang cukup luas sehingga mau tidak mau terpaksa menggusur pepohonan yang dulunya menghiasi dan melindungi kota dari polusi yang dikeluarkan oleh kendaraan ‘orang-orang sibuk’ khas perkotaan.
Dan ternyata semangat ‘Gusur Pohon’ ini diikuti pula oleh Universitas tercinta kita. Semisal saja, penggusuran beberapa pohon di depan lapangan rektorat yang kemudian disulap menjadi bundaran UB, terus penebangan pohon di depan perpustakaan pusat untuk dijadikan kandang ayam. ‘Kalau sudah seperti ini, siap – siap saja bawa payung supaya kulit kita tidak terkena dampak radiasi sinar UV’.




Hmm… kayaknya SunBlock bakal laku keras abad ini
Btw, bukanlah ini memang dilema pembangunan, yang jadi permasalahan sekarang ini adalah bagimana kita mencari solusi pemecahannya
Menurut sepengetahuan Ane bukankah negara maju seperti Jepang dahulu juga telah “menggundul” habis hutan primer mereka? Kalo sekarang d kota-kota besar di Jepang terdapat hutan, hutan itu merupakan hutan skunder, alias hutan yang ditanam manusia, bukan hutan alami.
By: DataQ on June 4, 2008
at 8:10 am
klau ga salah sejak tahun 94 peningkatan panas dimalang meningkat.
pake payung kaya’ topeng monyet aja
By: nokiafandi on June 28, 2008
at 12:44 pm