Posted by: Ratna | November 5, 2008

SIAPA CEPAT DIA DAPAT

Ditulis oleh : adik saya -Yuski Sudana

Istilah inilah yang barangkali dijadikan pedoman tidak hanya bagi seorang atlet lari  yang berusaha mendapatkan gelar juara, tetapi juga digunakan oleh suatu bangsa yang ingin mendapatkan kekayaan alam sampai kekayaan budaya bangsa lain. Inilah yang menggambarkan perselisihan antara negara kita dengan negara jiran Malaysia. Pada saat para pemuda Indonesia terlena dengan narkoba dan tawuran, diam – diam negara jiran Malaysia, membangun suatu resort dan hotel untuk kepentingan wisata di P. Sipadan dan Ligitan yang pada saat itu masih menjadi wilayah Indonesia.Sehingga pada saat pemerintah Indonesia mengetahuinya dan diajukan ke Mahkamah Internasional PBB, Indonesia dinyatakan tidak berhak memiliki kedua pulau tersebut. Ini dikarenakan Malaysia dianggap lebih mampu mengelola pulau tersebut yamg dibuktikan dengan adanya bangunan resort dan hotel milik Malaysia, sedangkan kita kalah cepat untuk melakukannya. Politik siapa cepat dia dapat berhasil digunakan oleh Malaysia.

Tidak hanya itu, makanan olahan asli Indonesia yaitu tahu dan tempe berhasil mereka caplok karena mereka lebih dahulu mengajukan hak paten, sehingga sekarang hak paten tahu dan tempe menjadi milik negara Malaysia. Ini menyebabkan kesulitan bagi para pengusaha tahu dan tempe dari Indonesia, untuk memasarkan produknya ke luar negeri. Karena dengan adanya  hak paten yang dimiliki oleh Malaysia para pengusaha tersebut harus membayar royalti kepada negara jiran tersebut. Bahkan akhir – akhir  ini hubungan Jakarta – Kuala Lumpur  kembali memanas dengan diklaimnya lagu “Rasa Sayange” dan “Reog Ponorogo” sebagai kebudayaan asli dari negara yang memiliki menara kembar Petronas itu. 

Ini bukan sepenuhnya kesalahan dari saudara serumpun kita itu. Melainkan juga kesalahan kita yang memberikan kesempatan kepada mereka. Para pejabat politik yang sibuk berebut kursi, para pelajar yang sibuk tawuran dan teler akibat pengaruh narkoba, para mahasiswa yang sibuk berdemonstrasi tanpa solusi yang jelas, para musisi muda yang lebih menghargai aliran musik mancanegara daripada musik tradisional asli Indonesia, para scientist dalam negeri yang kebingungan mencari dana untuk melakukan riset, dan masih banyak lagi hal – hal yang memberikan banyak ruang bagi bangsa asing mengobrak abrik kedaulatan bangsa kita. Semoga para pemimpin dan generasi muda menyadari akan hal ini, kalau kita terus menerus kalah cepat dari bangsa lain maka masa depan bangsa ini akan  berada di ambang kehancuran.


Responses

  1. maaf mbak (dan penulis aslinya) setau saya yang memiliki hak paten pembuatan tempe adalah Jepang… mohon maaf kalo ada kesalahan..
    sebetulnya banyak koq barang kita yang kualitas ekspor dan dibagai di berbagai penjuru dunia seperti contoh sepeda Merk Polygon sampe2 teman saya yang kurang paham tentang sepeda ngira tuh merk berasal dari luar negri (selain harganya yang bisa dibiilang mahal) intinya produk Indonesia juga bagus namun untuk urusan branding kita harus sportif untuk menyatakan “kalah”
    kasus lain adalah banyak merk2 terkenal melakukan proses produksi di Indonesia seperti sepatu ADIDAS,Reebok,Nike dan digunakan oleh atlet dunia, sayang produsen2 itu sekarang angkat kaki dari Indonesia dan lebih memilih di Cina (kasus sempat marak beberapa waktu silam)

  2. 2 danu,bnr dan,indonesia jg bisa produksi kualitas ekspor,skr mgk qt lg kecolongan,bangsa yang “mencuri” hak paten qt sama saja dengan “pencuri ulung”,mereka “takut” bangsa indonesia ini bersatu dan Maju karena bisa menjadi negara hebat atau adidaya, krn indonesia pnya potensi SDA,Budaya,Kerajinan dsb yang amat besar,unfortunely skr SDM qt sedang di hancurkan dari dalam

  3. To Ifanez :
    Fan tulisanmu jangan terlalu banyak disingkat seperti bahasa sms donk, contoh : mgk

    Jadi susah memahi tulisanmu dengan cepat, Ane butuh membaca beberapa kali baru bisa paham

  4. ya mkin suatu saat nanti kita akan bercerita pada anak cucu kita bahwa “dulu ada suatu negara yg sekarang dah ngk ada lagi yaitu indonesia”😀
    Reog Ponorogo biarin dah silahkan ambil, kalo ngk gitu kotaq gk akan terkenal.
    BTW, ponorogo kok reognya ya?
    mestinya ponorogo itu GONTOR nya yg terkenal😀

  5. Mbak kenapa yah, kita ini sering menyalahkan orang lain, ingin menang sendiri, kalau kita lihat banyak sekali tanah kosong tidak digarap, mau digarap sudah milik orang, kalau digarap yang punya marah, apakah itu yang di sebut mubajir ? kalau pulau sigitan dan ligitan kasusnya seperti itu bukan yah ?


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Categories

%d bloggers like this: